Friday, September 5, 2008

Cahaya Islam di Belanda

The only Indonesian Mesjid in The Hague is the Al-Hikmah. Formerly a church, bought at a cost of 600K guilders 10 years ago which was equivalent to B$500K. Nowadays the value of the asset is probably reaching 4 to 5 million Euros. Here's an article written by Republika, an Indonesian paper, regarding the mesjid, written back in 2000.

Semburat Cahaya Islam di Belanda

Republika, 04 Feb 2000
DEN HAAG malam itu menggigil dalam suhu udara 3 derajat Celcius. "Inilah masjid kita," kata M Chaeron, mantan Ketua Persatuan Pemuda Muslim se Eropa (PPME), kepada Republika di Den Haag. Dari luar, bangunan itu tidak mirip dengan masjid umumnya. Rumah panjang bertingkat dua, tanpa kubah. Suasana masjid baru terlihat ketika masuk ke dalam. Ada mihrab dan bentangan sajadah. Masjid Al-Hikmah di Heeswijkpein, Moerwijk kota Den Haag itu awalnya adalah gereja Immanuel.

Pada akhir 1995, di saat umat Islam Indonesia berupaya keras mengumpulkan dana untuk mendirikan masjid -- setelah musholah Al-Ittihad tidak dapat lagi menampung jamaah yang terus bertambah -- Probosutedjo, pengusaha Indonesia, membeli gereja tersebut dan mewakafkannya atas nama kakaknya RH Haris Sutjipto, yang wafat di Leiden, Desember 1995 setelah dirawat di kota itu. Masjid itu diserahterimakan Probo untuk umat Islam pada 1 Juli 1996.

Mengapa gereja? Untuk mendirikan bangunan baru di Belanda tidak mudah, sementara ketika itu banyak gereja yang tidak lagi difungsikan dan dijual kepada umum. Menurut Ahmad Nafan Sulchan, salah seorang pendiri PPME, masyarakat sekitar gereja lebih senang gereja itu dijadikan masjid daripada digunakan untuk kepentingan lain, diskotik misalnya.

Gereja Immanuel itu kini menjadi masjid. Lantai bawah digunakan untuk pengajian dan kegiatan remaja Islam. Lantai atas untuk shalat. Pada Ramadhan lalu, masjid Al-Hikmah dipenuhi warga Indonesia, yang diperkirakan lebih 5.000 orang.

No comments: